Minggu, 20 Juli 2014

generasi muda manggarai


                                                MAKALAH

 PROBLEM  PERILAKU  SEKS BEBAS  DI KALANGAN  GENERASI MUDA MANGGARAI

(Disusun untuk mendapatkan nilai Ujian Akhir Semester)

                                      

                                           

                                                             OLEH:

          NAMA: EPIFANIUS BAYLON JEHUDIN

                              KELAS: I E

                               NPM   : 13.31.3242



PROGRAM STUDI  PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR STKIP ST. PAULUS

                                                 RUTENG

                                                           2013/20

PRAKATA



            Puji dan syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmatNya penulis bisa menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

            Tidak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1.      Rm. Yohanes Mariano S. Dangku, Pr. Selaku dosen pengampu matakuliah Karya Tulis Ilmiah yang telah memberikan kepercayaan kepada penulis untuk menyelesaikan makalah ini secara mandiri tetapi tentunya tetap berpedomaan pada instruksi-instruksi yang diberikan.

2.      Teman-teman seperjuangan yang telah membantu penulis baik dari segi tenaga, waktu, dan biaya.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca saya harapkan untuk kesempurnaan tulisan-tulisan selanjutnya.



                                                                                    Ruteng, 12 juni 2014

                                                                                    Penulis

















                                               ABSTRAK



            Hasil  penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Bahayanya, perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkawinan. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum , tampaknya berkembang semakin serius. Penelitian yang dilakukan Dr Boyke, pada tahun 1999 lalu terhadap pasien yang datang ke Klinik Pasutri, tercatat sekitar 18 persen remaja pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Perilaku seks bebas di kalangan remaja bukan hanya terjadi di kota-kota besar saja namun hal ini sudah merembes ke remaja-remaja di seliuruh wilayah nusantara termasuk di Manggarai. Perilaku seks bebas di kalangan remaja manggarai memicu banyak akibat yaitu hamil di luar nikah khususnya yang terjadi di kalangan pelajar, kasus aborsi dan pembuangan bayi di kota ruteng bahkan berakibat fatal yakni menyebarnya Penyakit Seks Menular (PMS).

























                                                                 DAFTAR ISI





JUDUL

PRAKATA....................................................................................................................................2

ABSTRAK....................................................................................................................................3

DAFTAR ISI.................................................................................................................................4

BAB I

1.1  Latar belakang.............................................................................................................5

1.2  Tujuan penulisan..........................................................................................................5

BAB II KAJIAN TEORI..............................................................................................................6

BAB III PEMBAHASAN

            3.1 Penyebab seks bebas...................................................................................................9

            3.2 Seks bebas mencoreng nilai agama dan budaya.........................................................9

            3.3 Solusi.........................................................................................................................11

BAB IV PENUTUP

            4.1 Kesimpulan................................................................................................................13

            4.2 Saran..........................................................................................................................13













                                                                 BAB I

                                              PENDAHULUAN



1.1  LATAR BELAKANG

Seks bebas merupakan pengaruh budaya yang datang dari barat dan kemudian diadopsi oleh masyarakat Indonesia tanpa memfilternya terlebih dahulu. Revolusi seks yang mencuat di Amerika Serikat dan Eropa pada akhir tahun 1960-an sudah merambah masuk ke negeri kita tercinta ini melalui piranti teknologi informasi dan saran-sarana hiburan lainnya semakin canggih. Sekarang, untuk mendapatkan suatu video, gambar dan cerita-cerita tentang seks dan pornografi lainnya sangat mudah, tinggal cari di internet dengan mengunjungi situs-situs yang meyediakan layanan dewasa tersebut selain itu juga film-film dewasa tersebut juga sudah dijual oleh para pedagang kaset dan video. Begtu mudahnya akses untuk mendapatkan hal-hal yang berbau pornografi sekarang ini menyebabkan semakin meningkatnya angka perilaku seks bebas di dalam masyarakat khususnya di kalangan remaja

Prilaku seks bebas tersebut menjadi tren di kalangan remaja khususnya di Manggarai. Sehingga banyak kasus yang terjadi akibat prilaku seks bebas tersebut muncul dan timbul seperti hamil di luar nikah, aborsi dan menyebarnya penyakit seks menular seperti HIV/AIDS. Hal ini menjadi salah satu permasalahan yang sangat serius yang harus segera dicari jalan keluarnya supaya tidak semakin menjadi-jadi.

1.2  TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan penulisan ini yaitu:

1.      Mengkaji seks bebas menurut perspektif agama,para ahli dan psikolog

2.      Menjelaskan penyebab seks bebas

3.      Menjelaskan seks bebas sebagai bentuk pelanggaran tehadap nilai adat manggarai dan agama.

4.      Untuk mendapatkan nilai ujian Matakuliah KTI



                                                                  BAB II

                                                 KAJIAN TEORI







Menurut Sigmund Freud, seks adalah naluri dasar yang sudah ada sejak manusia lahir. Sejak lahir, manusia sudah menjadi mahluk yang seksual atau memiliki libido (enerji seksual) yang mengalami perkembangan melalui fase yaitu: oral, anal, falik dan genital. Seks merupakan sebuah anugrah yang harus dipandang sebagai sesuatu yang sakral yang di dasari oleh sebuah ikatan perkawinan yang sah menurut agama. Dalam kitab suci perjanjian lama(Kejadian 1:26-28) Allah memberkati mereka , lalu Allah berfirman kepada mereka: Beranak cuculah dan bertambah  banyak; penuhilah bumi    dan taklukkanlah  itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung  di udara  dan atas sagala binatang  yangmerayap di bumi. “ Dari kutipan kitab suci tersebut jelaslah kiranya bahwa Allah menganugrahkan seks itu untuk tujuan mulia yakni untuk memperoleh keturunan agar dapat menjaga dan melestarikan keturunannya. Namun sekarang seks bukan lagi dipandang sebagai sesuatu yang sakral tetapi lebih kepada keinginan hawa nafsu semata dan dilakukan tanpa ikatan perkawinan yang sah. Lebih parah lagi ketika seks itu bebas  dilakukan oleh remaja-remaja dan bergonta-ganti pasangan(seks bebas).

            Jika ditinjau dari pemahaman kita terhadap hakikat manusia yang dianugrahi oleh akal budi, tidak sepantasnya apabila seorang manusia melakukan hubungan seks diluar nikah (seks bebas), karena hal itu lebih cenderung kepada sifat-sifat kehewanan. Coba kita bandingkan dengan hewan-hewan yang melakukan hubungan seks sesuka hatinya, dengan pasangan yang berbeda-beda dan dilakukan dimanapun yang penting ada kemauan. Hewan melakukan hal tersebut karena mereka tidak dianugerahi akal dan pikiran untuk melihat mana yang baik, mana yang buruk, mana yang pantas dan mana yang tidak pantas untuk dilakukan. Selain itu, hewan tidak terikat dengan norma-norma yang mengharuskannya untuk megikuti aturan dari norma yang berlaku dan mengikat seorang manusia. Kalau manusia melakukan kegiatan seks bebas, berarti derajat mereka tidak lebih dari hewan yang berwajah manusia, karena manusia dianugerahi oleh Tuhan akal dan pikiran untuk dapat memilih mana yang baik, mana yang buruk, mana yang pantas dan mana yang tidak pantas untuk dilakukan.

Seks bebas merupakan sebuah masalah sosial yang harus diatasi dan dicari jalan keluarnya. Mengapa disebut sebagai masalah sosial? Menurut Soerjono Soekanto(Blog Smandry di 00.17)  masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti
kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
Pada artikel ini, penulis akan membahas salah satu masalah sosial yang semakin sering kita dengar, yaitu Semakin banyaknya remaja Indonesia khususnya di Manggarai yang terlibat seks bebas.

Menurut  Guntoro Utamadi, Psikolog yang juga pengasuh rubik Curhat di harian Kompas, tingkat Pemahaman remaja yang dipengaruhi mitos-mitos lingkungan sekitar, khususnya dari teman sebaya dapat membahayakan perkembangan mental remaja bila tidak segera didampingi oleh orang yang dipandang tepat memberi informasi yang benar. Pemahaman remaja terhadap resiko perilaku yang mereka lakukan seringkali sangat minim. Mereka merasa telah melakukan berbagai pencegahan dan antisipasi , akan tetapi sebenarnya yang mereka ketahui adalah informasi yang salah. Dan remaja perempuan, lebih rentan terhadap berbagai resiko dan berbagai kerugian dari perilaku seksual tersebut. Seperti, resiko kehamilan, aborsi, PMS, lebih banyak akan diderita oleh perempuan.

Tragisnya, banyak remaja perempuan yang tidak bisa mengatakan TIDAK melakukan hubungan seks dengan pacarnya. Karena ada anggapan ini satu paket dalam berpacaran. Kalau tidak, mereka dianggap bukan anak gaul.Karena terpedaya oleh rayuan, ketakutan diputus pacarnya, sampai dengan ancaman dan paksaan membuat remaja perempuan menjadi beresiko lebih tinggi. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran terhadap tubuh sendiri dan pemahaman bahwa tubuhnya adalah miliknya dan bertanggung jawab, sangat diperlukan bagi remaja perempuan. Kemampuan berkata tidak yang sering kali berhubungan erat dengan rasa percaya diri, harus selalu dilatihkan. Remaja laki-laki juga harus sering diajak mengembangkan dorongan seksualnya dan menghormati perempuan.

Faktor lain, adalah bahwa masalah seks dengan pasangannya justru dijadikan legistimasi untuk melakukan seks bebas. Bahkan, saat ini, seks bebas sudah menjadi bagian dari budaya bisnis. Factor yang melatarbelakangi hal ini, menurut Boyke, antara lain disebabkan berkurangnya pemahaman nilai-nilai agama. Selain itu, juga disebabkan belum adanya pendidikan seks secara formal di sekolah-sekolah. Selain itu, juga maraknya penyebaran gambar serta VCD porno.



Peran media massa, diakui Maria Hartiningsih, wartawan senior Harian Kompas, mampu membentuk realitas dari kehidupan. Ketika menghadapi dorongan seks luar biasa, penyaluran yang dibayangkan remaja adalah hubungan seksual. Dan berbagai media yang menyalurkan minat mereka itu, tersedia di mana-mana dengan murahnya dan membawa remaja pada perilaku tidak benar.

Berdasarkan survey Pusat Studi Wanita Universitas Islam Indonesia (PSW-UII) Yogyakarta, jumlah remaja yang mengalami masalah kehidupan seks terutama di Yogyakarta terus bertambah, akibat pola hidup seks bebas. Mengapa demikian? karena pada kenyataannya pengaruh gaya seks bebas yang mereka terima jauh lebih kuat dari pada control yang mereka terima maupun pembinaan secara keagamaan. Selain itu, munculnya perilaku seks bebas di kalangan remaja yang marak belakangan ini tidak terlepas dari pengaruh era globalisasi, serta berkaitan erat dengan pengaruh Napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya).

































BAB III

PEMBAHASAN





3.1 PENYEBAB SEKS BEBAS





Seks merupakan naluri alamiah yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup di muka bumi ini. Hawa nafsu merupakan hal yang sangat menentukan dalam terjadinya perilaku seks bebas. Hubungan seks dilakukan apabila hawa nafsu sudah menguasai dirinya. Hawa nafsu membuat seseorang lupa segala-segalanya, termask lupa akan Tuhan, yang dia tahu hanyalah bagaimana caranya agar nafsunya tersebut dapat tersalurkan.

Ada berbagai faktor yang menyebab terjadinya seks bebas di kalangan remaja khususnya di manggarai yakni:

1.      Anggapan bahwa seks merupakan sebuah paket atau sesuatu yang wajar harus dilakukan dalam berpacaran dan mengganggab sebagai salah satu cara untuk menunjukan rasa cinta.

2.      Bagi remaja tidak “gaul” atau kuper jika belum mersakan hubungan seksual.

3.      Pengaruh video porno yang banyak menyebar di kalangan remaja serta situs-situs yang menyediakan layanan yang memudahkan para remaja mengakses gambar dan video porno tersebut.

4.      Rasa ingin coba yang sangat kuat di kalangan remaja-remaja  yang menginjak masa pubertas..

5.      Kurangnya perhatian orang tua sehingga anak lebih suka mencari jalan keluar dari setiap persoalan-persoalan dan pada akhirnya terjerumus dalam prilaku seks bebas.

6.      Kurangnya pengetahuan anak tentang seks dan bahayanya serta budaya masyarakat manggarai yang masih menganggap pendidikan seks itu sesuatu yang tabu.

Selain faktor-faktor yang sudah dipaparkan diatas masih banyak lagi faktor yang menyebabkan terjadinya prilaku seks bebas di kalangan remaja manggarai.



3.2 SEKS BEBAS MENCORENG NILAI BUDAYA DAN AGAMA

            Seks bebas dikalangan remaja Manggarai menjadi salah satu masalah yang sangat serius dan harus ditindak lanjuti. Seks bebas merupakan suatu pelanggaran terhadap norma-norma dalam masyarakat Manggarai dan secara tidak langsung melunturkan adat dan budaya Manggarai yang terkenal santun baik dari segi kata-kata, pakayan dan prilaku. Sudah begitu banyak remaja manggarai yang meninggalkan serta melepaskan norma-norma dan larangan yang berlaku dalam budaya mereka dan cendrung mengikuti pola hidup kebarat-baratan dan pada akhirnya memicu perilaku seks bebas seperti:

a.      Cara berpakayan

Dalam budaya manggarai sesuatu yang sangat tabu apabila perempuan memakai pakayan yang mengumbar aurat. Akan tetapi sekarang sudah berbanding terbalik, banyak perempuan manggarai yang memakai pakayan yang seronok dan sengaja menampilkan bagian-bagian tubuh mereka. Hal ini menjadi pemicu banyak terjadinya tindakan pemerkosaan dan pelecehan seksual di Manggarai akibat cara berpakaiyan yang mengundang nafsu bejat para lelaki.

b.      Seks bebas

Remaja manggarai dewasa ini sudah banyak melangkah terlalu jauh dan terjerumus dalam prilaku seks bebas. Seks bebas sepertinya sudah menjadi tren di kalangan remaja baik yang duduk di bangku sekolah SMP, SMA maupun yang dilakukan oleh kalangan mahasiswa. Sehingga begitu banyak kasus-kasus yang terjadi di manggarai yang disebabkan oleh perilaku seks bebas seperti hamil diluar nikah, aborsi, pembuangan bayi dan kasus penularan HIV/AIDS. Para remaja di  Manggarai sudah tidak memperhatikan nilai-nilai adat dan  budaya Manggarai yang luhur tersebut dan bertindak seperti manusia yang tak berbudaya dan berakal budi. Yang lebih parah lagi, remaja Manggarai melakukan hubungan seks sedarah seperti yang terjadi di Sita Manggarai Timur dimana seorang remaja melakukan hubungan seks dengan saudari kandungnya sendiri dan akhirnya hamil. Remaja manggarai tidak memperhatikan pasangannya yang adalah tanta,bibi,paman saudari yang masih memiliki hubungan darah dengannya tetapi lebih dikuasai oleh hawa nafsu dan kesenangan tubuh semata. Falsafah manggarai yang berbunyi: neka inung toe nipu hang toe tanda agu toko toe mopo sudah dilepas dan tidak memiliki nilai samasekali.

c.       Pelacuran dan hiburan malam

Di manggarai sudah banyak tempat-tempat yang menjadi arena hiburan malam yang digunakan oleh masyarakat manggarai termasuk remaja Manggarai. Banyak praktek Pelacuran terselubung yang dilakukan remaja putri di kota ruteng yang menjadi incaran lelaki hidung belang. Hal itu biasa mereka lakukan di tempat-tempat sepi, di kost dan di hotel. Banyak remaja putri di Manggarai yang sudah berani keluar malam dibawa oleh pacar bahkan om-om untuk melakukan aksi memuas hawa nafsu mereka. Larangan orangtua supaya neka lako gula boto cumang kula toe kula bon kula buta agu neka lako wie boto cumang pie, toe pie bon pie nggipet ungkapan ini memiliki syarat makna yang kalau diterjemahkan dan dianalisis lebih jauh artinya jangan keluar malam atau keluar pagi supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti tindakan pemerkosaan sudah tidak dihiraukan lagi.

Selain melanggar norma adat seks bebas juga dilarang keras oleh agama seperti perintah dalam kitab suci untuk jangan berzinah sudah dilanggar oleh remaja Manggarai.



3.3 SOLUSI

Ada berbagai solusi yang ditawarkan oleh penulis agar perilaku seks bebas di kalangan remaja Manggarai tidak semakin merajalela Jika permasalahan remaja yang ada di Manggarai tidak dikurangi dan diselesaikan dengan cepat maka dapat menyebabkan hancurnya tatanan budaya dan generasi Manggarai selanjutnya.

Berikut beberapa saran yang mungkin bisa dilakukan untuk mencegah prilaku seks bebas pada remaja di Manggarai:

a.      Adanya kasih sayang, perhatian dari orang tua dalam hal apapun serta pengawasan yang tidak bersifat mengekang.

Salah satu faktor terbesar yang mengakibatkan remaja kita terjerumus ke dalam prilaku seks bebas adalah kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Perilaku seks bebas pada remaja saat ini sudah cukup parah. Peranan agama dan keluarga sangat penting untuk mengantisipasi perilaku remaja tersebut. Sebagai makhluk yang mempunyai sifat egoisme yang tinggi maka remaja mempunyai pribadi yang sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan di luar dirinya akibat dari rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Tanpa adanya bimbingan maka remaja dapat melakukan perilaku menyimpang. Untuk itu, diperlukan adanya keterbukaan antara orang tua dan anak dengan melakukan komunikasi yang efektif. Mungkin seperti menjadi tempat curhat bagi anak-anak anda, mendukung hobi yang diinginkan selama kegiatan tersebut positif untuk dia.

b.      Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi.

Pada usia remaja, mereka selalu mempunyai keinginan untuk mengetahui, mencoba dan mencontoh segala hal. Seperti dari media massa dan elektronik yang membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti seperti yang ada dalam tayangan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan adanya pengawasan dalam hal tersebut. Mungkin dengan mendampingi mereka saat melihat tayangan tersebut. Menambah kegiatan yang positif di luar sekolah, misalnya kegiatan olahraga. Selain menjaga kesehatan tubuh, kesibukan di luar sekolah seperti olahraga dapat membuat perhatian mereka tertuju ke arah kegiatan tersebut. Sehingga, memperkecil kemungkinan bagi mereka untuk melakukan penyimpangan prilaku seks bebas.

c.       Perlu dikembangkan model pembinaan remaja yang berhubungan dengan kesehatan produksi.

Perlu adanya wadah untuk menampung permasalahan reproduksi remaja yang sesuai dengan kebutuhan. Informasi yang terarah baik secara formal maupun informal yang meliputi pendidikan seks, penyakit menular seksual, KB dan kegiatan lain juga dapat membantu menekan angka kejadian perilaku seks bebas di kalangan remaja.

d.      Perlu adanya sikap tegas dari pemerintah dalam mengambil tindakan terhadap pelaku seks bebas.

Dengan memberikan hukuman yang sesuai bagi pelaku seks bebas, diharapkan mereka tidak mengulangi perbuatan tersebut.






BAB IV

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

             Seks bebas sudah menjadi hal yang tidak tabu lagi bagi kalangan remaja di Manggarai. Kegiatan seks bukan hanya dilakukan oleh pasangan yang sah menurut agama dan hukum yang berlaku akan tetapai juga dilakukan oleh para pelajar dan mahsiswa.

Pelajar dan mahasiswa sekarang ini cenderung lebih mengutamakan pacaran dan kebutuhannya yang lain daripada menuntut ilmu. Mereka tidak lagi tenggelam dalam pelajaran akan tetapi sudah tenggelam dalam lautan asmara yang mereka namakan cinta. Sehingga norma adat Manggarai yang dulunya begitu kental sudah semakin luntur dan pudar oleh perilaku remaja Manggarai yang tidak mematuhi larangan adat dan Agama.

4.2 SARAN

Perlunya perhatian semua pihak baik pemerintah di tiga wilayah kabupaten Manggarai yakni Manggarai Timur, Manggarai Barat Dan Manggarai maupun masyarakat Manggarai Raya dalam mencegah terjadinya seks bebas di kalangan remaja Manggarai. Masyarakat dan pemerintah harusnya aktif dalam mengkampanyekan anti seks bebas.

Pelajar dan mahasiswa harusnya lebih fokus kepada pelajaran bukan fokus pacaran. Masa depan kalian masih panjang.



















                                           DAFTAR  RUJUKAN




Muzayyanah, Nurul. 2008. DAMPAK PERILAKU SEKS BEBAS BAGI KESEHATAN REMAJA.


Prof. Dr. Hj. Melly Tri Sulastri Rifa’I, M. Pd. dalam Seminar Hari Keluarga Nasional ke VII di Jakarta, 27 Juni 2000

Seminar Tentang Remaja “ANOMI DIKALANGAN REMAJA AKIBAT KEKABURAN NORMA”, Jakarta Kompas










Tidak ada komentar:

Posting Komentar